Altruistic Punishment

kenapa kita rela rugi asal bisa menghukum orang yang berbuat curang

Altruistic Punishment
I

Pernahkah kita antre berjam-jam di pintu tol atau kasir, lalu tiba-tiba ada orang yang dengan santainya menyerobot masuk dari samping? Dada kita pasti langsung terasa panas. Darah seolah mendidih perlahan. Sering kali, kita refleks mengambil tindakan. Kita memepetkan kendaraan kita untuk menutup jalan si penyusup. Atau, kita rela berdebat urat leher dengan orang tersebut di depan umum. Padahal kalau dipikir-pikir, risiko baret di mobil itu sangat nyata. Kita juga membuang energi, merusak mood seharian, dan membuang waktu. Kita rela menanggung kerugian pribadi tersebut, asalkan si tukang serobot tidak lolos begitu saja. Kenapa kita bisa sebegitu emosinya melihat orang lain curang, bahkan ketika kecurangan itu tidak langsung mencuri uang dari dompet kita? Mari kita bedah fenomena aneh ini bersama-sama.

II

Kalau kita bertanya pada ahli ekonomi klasik, tindakan memepet mobil tadi itu murni kebodohan. Teori ekonomi tradisional punya satu asumsi kaku: manusia adalah mahluk yang sangat rasional. Kita diasumsikan selalu berhitung untung-rugi demi memperkaya diri sendiri. Tapi kenyataan di lapangan sering menampar teori ini. Manusia ternyata sangat suka membuang sumber daya demi memberi pelajaran pada orang asing. Dalam dunia psikologi ekonomi, ada sebuah eksperimen klasik bernama Ultimatum Game. Aturannya sederhana. Bayangkan saya memberi teman-teman uang seratus ribu rupiah, tapi syaratnya uang itu harus dibagi dengan satu orang asing. Kalau si orang asing setuju dengan nominal pembagiannya, kalian berdua boleh membawa pulang uang tersebut. Namun kalau dia menolak, uangnya hangus dan kalian berdua tidak dapat apa-apa. Secara logika murni, jika teman-teman menawari dia sepuluh ribu rupiah, dia seharusnya menerima. Sepuluh ribu jelas lebih berharga daripada nol, bukan? Tapi tahukah teman-teman apa yang sebenarnya terjadi?

III

Dalam kenyataannya, rata-rata orang akan menolak mentah-mentah tawaran di bawah tiga puluh ribu rupiah. Mereka memilih gigit jari tidak mendapat uang sama sekali, asalkan si pembagi yang pelit tadi juga ikut tidak dapat apa-apa. Manusia rela membakar uangnya sendiri demi menghukum sebuah ketidakadilan. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tempurung kepala kita? Sekelompok ilmuwan saraf pernah mencoba menjawab ini dengan memasukkan peserta eksperimen ke dalam mesin pemindai otak atau fMRI. Hasil tangkapan layar otak tersebut sungguh di luar dugaan. Saat kita memutuskan untuk menghukum orang yang berbuat curang, ada area di otak bernama dorsal striatum yang menyala sangat terang. Ini bukan pusat amarah. Ini adalah pusat penghargaan di otak kita. Area yang persis sama ketika kita sedang makan makanan enak atau sedang jatuh cinta. Otak kita secara harfiah menyuntikkan dopamin. Rasanya ternyata sangat memuaskan bisa menampar ego si pelaku curang, meskipun kita sendiri harus ikut berdarah. Lalu, kenapa evolusi merancang otak kita menjadi seperti ini?

IV

Jawaban dari misteri ini akan membawa kita mundur ribuan tahun ke belakang. Di sinilah letak rahasia terbesar bagaimana peradaban manusia bisa terbentuk. Para ahli perilaku menyebut fenomena ini dengan nama altruistic punishment atau hukuman altruistik. Istilah yang terdengar agak kontradiktif, bukan? Altruisme biasanya identik dengan kebaikan hati, seperti menolong tetangga atau menyumbang ke panti asuhan. Namun dalam kacamata biologi, menghukum orang curang adalah bentuk pengorbanan yang suci. Zaman dahulu kala, nenek moyang kita hidup dalam kelompok peramu yang kecil. Keselamatan seluruh suku bergantung pada kerja sama absolut. Semua orang harus ikut berburu dan merawat anak bersama. Lalu, pasti ada satu atau dua orang parasit. Mereka ini free-rider yang ikut makan daging buruan, tapi pura-pura sakit saat jadwal berburu tiba. Kalau parasit ini dibiarkan, anggota suku yang rajin akan merasa lelah, kehilangan motivasi, dan ikut-ikutan malas. Ujungnya, seluruh kelompok akan mati kelaparan. Di titik kritis inilah insting altruistic punishment menyelamatkan kita. Selalu ada individu rela mempertaruhkan nyawanya untuk menghajar si parasit demi menegakkan aturan kelompok. Mereka rugi secara personal, tapi kelompoknya selamat dari kepunahan. Tanpa pengorbanan berbalut amarah ini, tidak akan pernah ada desa, hukum, kota, hingga negara. Manusia tidak akan pernah membangun peradaban.

V

Jadi, rasa panas di dada saat melihat penyerobot antrean tadi bukanlah sekadar masalah emosi yang labil. Itu adalah gema dari insting purba pembangun peradaban yang berdetak di dalam DNA kita. Namun, kita sekarang hidup di era modern yang serba cepat dan rumit. Insting heroik ini terkadang bisa menjadi pedang bermata dua, terutama ketika ia dibajak oleh algoritma media sosial. Kita sering melihat fenomena cancel culture atau kemarahan massal di internet. Banyak dari kita merasa sedang menjadi pahlawan keadilan saat memaki seseorang di kolom komentar. Padahal kenyataannya, otak kita hanya sedang ketagihan dopamin murahan. Teman-teman, dorongan alami kita untuk menegakkan keadilan itu sangat indah dan membuktikan bahwa kita peduli pada masyarakat. Kita bukan robot yang egois. Namun di masa kini, mungkin kita perlu belajar mengelolanya dengan lebih anggun. Mari kita ciptakan sedikit ruang jeda antara insting evolusioner kita dengan tindakan nyata. Sesekali, menarik napas panjang dan membiarkan satu orang bodoh berlalu di jalan tol adalah keputusan paling cerdas untuk menjaga kedamaian mental kita sendiri.